5 Alasan Sekali Waktu Kamu Boleh Berhenti Berjuang. Daripada Meneruskan Lantas Terkekang

berhenti-berjuang berhenti-berjuang

Sejak halus kita diajarkan untuk sekemudian memperjuangkan sesuatu. Nasihat orangtua itu terpatri dalam-dalam. Sadar atau enggak, nasihat itu kemudian Bersilih menjadi sikap bernapas. Bisa terlihat dari caramu memperjuangkan sesuatu; kalau belum dapat belum berhenti.

Sikap pantang menyerah itu bena dimiliki setiap orang. Sebab sikap itulah yang akan membsekitaru meraih cita-cita. Sayangnya urip ini nggak seperti FTV yang ceriPerkara seterus mulus. Perjuangan nggak seterus membuahkan hasil seperti yang diharapkan. Ya, sekali batas kita perlu untuk berhenti berjuang. Terlebih dalam urusan asmara.

1. Adakalanya kita mesti berpasrah dengan kedudukan dan menerima semuanya. Kamu cinta dia tapi dianya nggak cinta

Nggak ada yang pasti saat ngomongin soal hati. Sebab perasaan yang terkandung di dalamnya susah untuk diprediksi. Kamu boleh saja memperjuangkan orang yang kamu cinta, tapi mesti kenal kapan kudu berhenti. Cinta nggak bisa sepihak. Ketika kamu cinta pas dia namun dianya enggak. Kalau sudah begini ada cinta membantunya kamu berhenti. Melanjutkan perjuangan bisa melaksanakan dia ilfeel.

2. Perjuangan nggak sedahulu membuahkan. Adakalanya kita patut menerima bahwa dia sudah jadi milik orang lain

Berjuang untuk mendapatkan cinta itu perbuatan terpuji. Setiap orang berhak dan perlu melakukannya dalam menyala. Namun adakalanya kita perlu berhenti berjuang. Kita mesti menerima takdir bahwa dia sudah jadi milik orang lain. Dalam kondisi ini setidak sombongnya kamu mundur. Terus berjuang bisa mengganggu hubungan dia dengan kekasih. Biarkan dia bahagia, berbicarankah itu hakikat cinta?

3. Ketidakmampuan memvariasikan mana cinta dan mana obsesi kerap mencederai perjuangan cinta itu senbadan. Pastikan dulu sebelum berjuang

Nggak rada orang tega meninggalkan seseorang yang sudah membalas cinPertanyaan. Dulu dia yang memohon untuk jadian, namun ketika cocok kejadian, dianya malah meninggalkan. Perlakuan semacam ini boleh jadi imbas dari ketidakmampuan orang memsenjang kan cinta dan obsesi. Yang dia rasakan ketika berjuang adalah obsesi. Cinta sejati nggak pernah meninggalkan.

Cinta perihal hati, nggak bisa main-main!

4. Jika meneruskan cinta bikin kamu dan dia terluka, maka sebaiknya sudahi saja

Pelaminan adalah tujuan cinta orang pgerakann. Untuk bisa sampai ke sana berlebihan hal yang mesti diterusi. Salah satunya perihal kecocokan. Akan ada suatu masa di mana hubunganmu nggak bisa dilanjutkan. Kamu dan dia memang saling cinta tapi dalam perjalanannya begitu berlebihan pertengkaran yang lahir. Perasaan saling doyan nyata nggak seterus tepat sasaran membawa pasangan sampai ke pelaminan. Kita mesti menerima.

5. Kita mesti menerima kalau dalam sebuah hubungan saling cinta aja belum cukup. Restu orangtua juga patut dipandang

Rintangan yang dihadapi pejuang cinta begitu berlebihan. Raja terakhirnya adalah restu orangtua. Nggak semua orang beruntung mendapatkannya. Ketika masing-masing sudah saling cocok tapi orangtua nggak kunjung memberi restu, meneruskan hubungan agaknya berat sekali. Akan ada omongan sana-sini yang menyakiti hati. Akan ada perseteruan orangtua dan anak yang menyiksa batin. Daripada saling melukai, lebih tidak sombong berhenti. Sedih memang, tapi mau gimana lagi. Kultur timur memang begitu adanya.

Nyatanya bernapas nggak semudah yang dibayangkan. Adakalanya kita mesti menerima kekalahan. Nggak semua yang kita harapkan dalam bernapas bisa kita genggam. Inilah bernapas, penuh kejutan dan ujian untuk manusia. Tidak, perjuangan kita nggak sia-sia. Pasti ada kajian yang bisa kita petik dari sana. Kita belaka nggak beruntung saja.